Selasa , 27 Juni 2017
Berita Terbaru
Home » Kisah Prajurit » Keahlian Menembak Berawal dari Tuntutan Tugas
Keahlian Menembak Berawal dari Tuntutan Tugas

Keahlian Menembak Berawal dari Tuntutan Tugas

Sebagai seorang prajurit diharapkan dapat bekerja melebihi panggilan tugas,  hal itu telah diterapkan pada diri Sertu Abdullah Khafidz, anggota Kumtaltib Spersdam IV/Diponegoro yang saat ini juga tergabung sebagai atlet tembak Kodam IV/Diponegoro.

 

Menurut pria yang pernah bertugas di batalyon 400/Raider ini, menembak selain merupakan tuntutan tugas sebagai anggota TNI tetapi juga keahlian yang perlu ditekuni. Alhasil setelah 4 tahun berlatih menembak dengan terus menerus maka Sertu Khafidz   dikenal jago nembak dan dinobatkan sebagai prajurit berprestasi yang   menerima potongan tumpeng dari Kasdam pada syukuran HUT TNI ke-69 dan HUT Kodam IV/Diponegoro ke-64 yang digelar di lapangan Parade Kodam IV/Diponegoro 11/10

Suami dari Erni  Ekawati tersebut masuk menjadi prajurit TNI AD dari jenjang Secatam. Lulus dari pendidikan Tamtama th 1995, dirinya berdinas di Batalyon 401/Banteng Raiders (sekarang Yon 400/Raider). Sebagai seorang prajurit  batalyon dirinya dituntut harus mampu bertempur dan keahlian menembak merupakan suatu keharusan bagi seorang prajurit.

Ketika melaksanakan latihan menembak  itulah, pelatih  menyatakan bahwa dalam  dirinya  ada bakat/kemampuan dalam hal menembak. Dari sini, maka  dididiklah di 401 Raiders, sehingga menjadi tim atlit inti menembak tingkat batalyon yang selalu berlomba mewakili batalyon. Setelah beberapa waktu berlatih maka dirasa ada kemampuan sehingga ketika awalnya  penembak senapan kemudian diajari menembak pistul.

Selain itu pria kelahiran Kendal 20 Desember 1975 tersebut akhirnya bergabung dalam lomba Pleton Tangkas tingkat TNI AD th 2001- 2002 mewakili Kodam, sebagai penembak pistol dalam pleton itu kemudian penembak SO Senapan otomatis, dan penembak senapan mendapat juara 3 Tontangkas dan Oramilnya juara 1.

Diceritakan, untuk menembak  senapan dan pistol ada bedanya, cenderung lebih rumit pistol kalau pistol seringnya untuk pimpinan kalau senapan untuk anggota, dengan kesulitan itu maka menantangnya untuk berlatih dan berlatih. Untuk latihan sendiri dilakukan setiap hari sehabis kerja di rumah dengan latihan kering (tidak memakai peluru), adapun untuk latihan basah dilakukan tiap hari Sabtu dan Minggu dengan latihan yang sebenarnya, di lapangan tembak jati diri dan di Brimob. Setiap satu kali latihan menghabiskan 250 butir peluru yang fasilitasi oleh Perbakin.

Untuk bisa menembak dengan baik maka fisik merupakan modal utama karena kebugaran tubuh juga mendukung  pelaksanaan menembak tersebut. Paling tidak dalan satu minggu 3 atau 4 kali kita joging kemudian fitnes kekuatan tangan sehingga tubuh kita tetap kokoh dalam mengawaki pistol atau senapan. Selain itu kekokohan tangan sangat berpengaruh terhadap perkenaan sasaran.

Pria dengan dua putra yakni Adhe Muhammad Igbal dan Naufal Aditya Rahman tersebut telah banyak  menjuarai  berbagai perlombaan di bidang menembak kreasi diantaranya juara I grade C standar division lomba tembak terbuka Internasional  Praktical Shooting Confederation  (IPSC) Kandang Menjangan Campionship yang diselenggarakan Danjen Kopassus Cup pada 2013. Juara 3 standar division Jateng dan DIY serta berhasil menjadi juara dua kelas Grade C Kepri Open ada September 2014.

Pesan kepada prajurit yang masih muda agar mengikuti jejaknya. Semua dapat mengikuti jejaknya dalam rangka menjadi tentara yang berprestasi tidak hanya dalam tugas resmi negara namun kita juga dapat berprestasi diberbagai bidang lainnya tentunya harus dilakukan dengan tekun dan terus berlatih. ”Keinginan dan motivasi tinggi adalah kunci untuk meraih prestasi”, ujarnya.