Selasa , 27 Juni 2017
Berita Terbaru
Home » Kisah Prajurit » Menjadi Prajurit Berkat Sepak Takraw
Menjadi Prajurit Berkat Sepak Takraw

Menjadi Prajurit Berkat Sepak Takraw

Sersan kepala Ary Catur Nugroho, demikian nama tamu majalah Gema Diponegoro edisi ini. Prajurit yang saat ini bertugas di Slogdam IV/Diponegoro ini merupakan atlet sepak takraw yang sudah berhasil menorehkan berbagai kejuaraan baik di tingkat nasional seperti PON maupun di tingkat internasional seperti Asean School, Sea Games maupun Kejuaran Terbuka seperti Isa Cup di Malaysia, King Cup di Thailand dan Singapore Open.

Kegemarannya bermain sepak takraw sudah dilakukan sejak klas 4 SD. Pria kelahiran Klaten tanggal 28 Pebruari 1981 ini bersyukur, perhatian dari masyarakat dan Pemda yang begitu besar pada sepak takraw saat itu, turut mendukung prestasi yang diperolehnya. Latihan yang dilakukan setiap sore bersama teman-temannya selalu mendapat sambutan meriah dari warga sekitarnya. Perhatian pemerintah kabupaten ditunjukkan dengan adanya pertandingan pelajar dari mulai tingkat desa, Kecamatan sampai kabupaten.

Sehingga, saat masih SD (tahun 1993), dirinya bersama tim sudah memenangkan emas pada Popda Propinsi Jateng. Selanjutnya saat SMP (tahun 1995 – 1996) memperoleh medali emas di tingkat Popnas. Kemenangannya di tingkat nasional menghantarkannya bergabung di Pusat pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) di Salatiga, sehingga sekolahpun berpindah di Kota Salatiga. Dari sini peluang pertandingan semakin terbuka.

Saat SMA (tahun 1997), Ary bersama tim mengikuti kejuaraan Asean School yang berlangsung di Sidoarjo, Surabaya dan menyabet perak.  Pada tahun itu pula, ada Sea Games yang berlangsung di Jakarta dan tim yang diikuti memenangkan medali perak. Kejuaraan selanjutnya, Asean School tahun 1999 di Malaysia dan Sea Games tahun 1999 di Brunei Darusssalam.

Putra dari Bapak Mulyadi dan Ibu Suharti ini mengatakan sepak takrow merupakan olah raga yang akrobatik, murah, energik dan meriah, karena gerakan dalam sepak takraw ini membuat orang terkesima dan dengan regu yang hanya terdiri dari 3 orang, para pemain akan lebih sering mendapatkan umpan-umpan bola. Namun dalam tiap kejuaraan sepak takrow, masing-masing tim beranggotakan 12 orang, terdiri dari 3 regu dan 1 orang cadangan untuk masing-masing regu.

Menjadi Prajurit

Seiring selesainya bangku SMA dan prestasi yang dicapainya di bidang sepak takraw, mengingatkan cita-cita Ary Catur Nugroho sebelumnya yaitu untuk menjadi prajurit TNI. Tampilan, sikap, disiplin yang selalu dilihat saat bertemu dengan prajurit, membulatkan tekadnya untuk memberanikan diri untuk menjadi anggota TNI AD dan berkonsultasi dengan KONI untuk menyampaikan keinginannya. Bak gayung bersambut, KONI dan pemerintah merestui dan mulailah dirinya mengikuti tahapan seleksi penerimaan prajurit hingga diterima menjadi prajurit TNI dengan pangkat sersan dua.

Pengabdiannya di TNI diawali dari Batalyon 407/Padma Kusuma, Tegal (2002). Sebagai prajurit di batalyon, kehidupan keprajuritan juga dilakukan mulai latihan, Olah raga dan pengabdian masyarakat. Pada tahun 2004, dirinya sempat mengikuti pra tugas untuk penugasan ke Aceh, namun  batal tugas ke Aceh karena bersamaan dengan pelaksanaan PON di Palembang.

Pada tahun 2006, Sersan Arry pindah tugas di Denma Skodam IV/Diponegoro dan tahun 2007 mengikuti Sea Games di Thailand mendapatkan perunggu. Selanjutnya tahun 2008 mengikuti PON di Bontang Kalimantan Timur mendapatkan 3 emas dan 1 perak.

Di saat bela diri Yong moodo digalakkan tahun 2010, suami dari Ambarwati Setyaningsih inipun mengikuti pelatihan yang ditempatkan di Rindam IV/Diponegoro, selama 6 bulan, yang dilanjutkan dengan menjadi pelatih di tingkat Makodam.

Kini di tengah kesibukan tugas di Slogdam, Serka Ary membagikan ilmu yang dimiliki kepada siapa saja yang berminat. Di Semarang, di sela waktu dimanfaatkan menyambangi adik-adiknya di Pusat Pendidikan dan Latihan Mahasiswa (PPLM) Unnes maupun di GOR Jati Diri.  Dan sebagai balas budi kepada warga sekitar yang membesarkan diri dan adiknya (Yudi Purnomo), beberapa tahun lalu dibentuklah sejenis sekolah untuk sepak takraw di kampung halamannya. Untuk berlatih anak didiknya, Serka Arry dan sang adik yang sekarang bertugas di Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Kabupaten Klaten ini membuat GOR mini. Serka Arry berharap ke depan ada lagi generasi lain yang meraih sukses selayaknya dia maupun adiknya.

Sebenarnya, masih ada keinginan yang belum terwujud dari sepak takrow ini, yaitu memasyarakatkan sepak takraw di masyarakat, karena olah raga yang murah meriah ini juga menyehatkan, tidak diperlukan tempat yang luas untuk beraktivitas. Keinginan ini, juga termasuk membawa olah raga sepak takraw di kalangan TNI, dimulai dari lingkungan Kodam IV/Diponegoro. Yah…semoga terwujud mas dalam mensosialisasikan sepak bola takrow.