Sabtu , 26 Mei 2018
Berita Terbaru
Home » Artikel » Ny. Iir Wuryanto : Danramil Dan Babinsa Lebih Dikenal Masyarakat
Ny. Iir Wuryanto : Danramil Dan Babinsa Lebih Dikenal Masyarakat

Ny. Iir Wuryanto : Danramil Dan Babinsa Lebih Dikenal Masyarakat

Bila dilihat dari struktur organisasi, Danrem semestinya lebih tinggi dari Danramil apalagi Babinsa. Namun Danramil dan Babinsa ternyata lebih ngetop ketimbang Dandim, Danrem atau bahkan Panglima. Hal ini karena Danramil dan Babinsa merupakan ujung tombak TNI yang langsung berinteraksi dengan masyarakat di wilayah, sehingga masyarakat akan lebih mengenal Babinsa atau Danramil ketimbang Dandim, Danrem maupun Pangdam.

Hal ini diceritakan Ketua Persit KCK Kodam IV/Diponegoro Ny. Iir Wuryanto dihadapan anggota Persit KCK Kodim 0735/Surakarta, Jum’at (19/1/2018).

Diceritakan Ny. Iir Wuryanto, di semua daerah, masyarakat lebih mengenal Danramil atau Babinsa dibanding Dandim, Danrem atau Pangdam.

“Saking ngetopnya Danramil, ada masyarakat yang tanya kepada suami saya (Pangdam), bapak sudah jadi Danramil?”, ungkap Ny. Iir disambut gelak tawa ibu-ibu Persit.

Dari sinilah, saya berpesan agar Ibu-ibu disini harus pandai-pandai menjaga diri di masyarakat, jadilah pengayom dan pelindung masyarakat. Jaga nama baik TNI dengan berperilaku yang baik di masyarakat.

Ny. Iir juga mengapresiasi terhadap anggota Persit Kodim 0735/Ska yang telah mampu menciptakan wira usaha berupa produksi batik, tahu dan boneka. Hal ini tentu selain dapat menambah pemasukan keluarga, dapat membantu mengatasi kesulitan rakyat disekeliling kita dan tentunya untuk masa depan.

“Saya bangga kepada ibu-ibu yang kreatif dan memiliki talenta, kepada yang belum, mari kita belajar. Yang sudah berhasil, ajari teman-teman kita, jangan takut nanti rejekinya diambil teman kita. Percayalah, rejeki sdah ada yang ngatur dan tidak mungkin tertukar”, ajak Ketua Persit Kodam IV/Diponegoro penuh semangat.

Terkait tahun Pilkada 2018, Ny. Iir juga menekankan tentang netralitas. Jangan sampai ada anggota Persit yang ikut terlibat politik praktis.

“Walaupun ibu-ibu mempunyai hak pilih, tapi ibu-ibu harus tetap netral. Jangan mau diajak untuk ikut-ikutan berpolitik, ikut kampanye dan sebagainya”, terangnya.