Monday , 24 April 2017
Berita Terbaru
Home » Kisah Prajurit » Dokter Rachma : Bekerja Sambil Ibadah
Dokter Rachma : Bekerja Sambil Ibadah

Dokter Rachma : Bekerja Sambil Ibadah

Semangat berbagi ilmu, berbagi sehat dan menolong sesama selalu melandasi sikap dokter Martini Rachmaningrum dalam menjalankan tugasnya di Poliklinik Pratama Kodam IV/Diponegoro. Tidak berlebihan bila dokter Rachma, demikian biasa dipanggil ini nampak sabar, ramah, murah senyum dan suka bercanda dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien yang berobat atau berkonsultasi di Poskes.

“Bagaimana ya…kita bisa merasakan ketika kita sendiri atau keluarga juga sedang sakit. Betapa tidak nyamannya karena badan terasa tidak enak. Kondisi inilah yang membuat dirinya ingin segera membantu agar pasien dapat segera sembuh. Karenanya, dirinya sangat sedih kalau mendengar ada yang akan berobat harus membayar dulu. Menurutnya sebagai pelayan kesehatan sebaiknya menangani atau membantu mengatasi sakit dulu”, ujarnya.

Wanita kelahiran Jakarta 10 Maret 1976 ini menganggap apa yang dilakukan selama ini merupakan hal yang sudah seharusnya dilakukan bagi orang-orang yang bertugas sebagai pelayan kesehatan. Ada pepatah yang mengatakan “senyummu mengurangi sakit pasien”, ada pula  semboyan “3 S” dalam pelayanan yaitu berikan senyum, salam dan sapa sehingga  dengan pelayanan yang manis seorang pasien sudah terobati sebagian sakitnya.

Alumnus Universitas YARSI (Yayasan Rumah Sakit Islam) Jakarta ini juga menyampaikan apa yang dilakukan tidak terlepas dari prinsip yang dipegangnya yaitu bekerja dengan niatan ibadah. Apapun jenis pekerjaan yang kita kerjakan kalau diniatkan ibadah insha Allah bermanfaat ganda ibadah dan mendapat penghasilan.

Selain itu kita harus selalu ingat bahwa hidup itu bukan hidup untuk selamanya di dunia. Dengan berbagi dan menebar manfaat berharap hidup ini terasa penuh keberkahan.

Pesan sang bapak kepada dirinya juga menjadi inspirasinya dalam menjlankan profesinya sebagai seorang dokter. Diceritakan, pada suatu ketika, bapaknya yang sakit diare buru-buru berobat ke dokter, setelah mendapatkan penanganan, betapa kagetnya sang bapak karena tidak mendapati dompet di kantung celananya. Dengan rasa canggung, sang bapak menyampaikan permasalahan tersebut ke dokter yang menangani dan berjanji akan segera kembali. Rupanya karena buru-buru berobat, sang bapak tidak menyadari kalau dompetnya tertinggal.

Setelah sembuh dari sakit, sang bapak berniat membayar dan menemui dokter yang menanganinya, namun sang dokter tidak mau menerima bayaran tersebut dan berucap “bapak sudah sembuh saja, saya sudah senang, bisa membantu sesama”.

Pengalaman bapak dalam mendapatkan perawatan inilah yang dipesankan kepada sang putri yang saat itu masih menemuh kuliah di Fakultas Kedokteran. “Jadilah dokter yang bisa membantu sesama”

Berbagi Ilmu

Pengalaman praktek bekerja di RS Ridwan Meurekso Jakarta (rekanan RST) yang kental dengan keakraban dan kebersamaan telah menarik minat dari istri Gunawan, ST.MT ini menjadi  dokter di lingkungan TNI.

Setelah mengikuti seleksi dan diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun 2009, dirinya ditempatkan di Poliklinik Kodim Jakarta Pusat tahun 2009. Dua tahun mengabdi disana, dokter Rahma mengajukan pindah ke Kodam IV/Diponegoro karena harus mengikuti tugas suaminya di salah satu BUMN.

Tugasnya di Poskes Pratama Kodam IV/Diponegoro diantaranya memberikan pelayanan yang sifatnya sederhana, memberikan dukungan kesehatan Kodam pada kegiatan-kegiatan rutin, melakukan penyuluhan terpadu bersama Satuan lain (Bintal dan Hukum) ke Satuan-satuan. Dan tugas terbaru, sudah beberapa bulan terakhir menjadi nara sumber acara bincang-bincang di radio Suara Diponegoro tentang kesehatan yang disiarkan secara langsung pada Kamis minggu terakhir setiap bulannya.

Sebagai tempat rujukan pertama, Poskes Pratama Kodam IV/Diponegoro selain menangani pengobatan prajurit, PNS dan keluarganya di seputaran Kodam IV/Diponegoro juga menerima pasien umum yang tergabung sebagai pasien BPJS. Oh…ya pelayanan lain dari Poskes Pratama, saat ini juga dilengkapi dengan BP Gigi.

Ditanya tentang jumlah pasien yang ditangani dalam setiap harinya, dokter yang juga mempunyai kemampuan tusuk jarum ini mengatakan ada sekitar 50 orang dengan penyakit yang mendominasi diantaranya tekanan darah, kolesterol, asam urat dan diabetes, ISPA, diare. Penyakit yang banyak dialami usai paruh baya ini, sebenarnya dapat segera diketahui melalui pemeriksaan laborat sederhana namun karena fasilitas ini belum tersedia, pihak Poskes harus memberikan rujukan ke RS Wira Bhakti Tamtama atau ke tempat BP lainnya.

Ibu dari 2 orang putra ini juga berharap bisa terus memberikan pelayanan terbaik, hal ini seiring dengan perkembangan dunia kedokteran, agar tidak tertinggal jauh dengan kondisi di luar.  Ada memang, keinginan untuk bisa mengembangkan dan melanjutkan pengetahuan agar dirinya bisa lebih memberikan manfaat kepada sesama.