Sabtu , 20 Oktober 2018
Berita Terbaru
Home » Berita Satuan » Koramil 20/Cawas Bersama PPL dan Mahasiswa STTP, Kaji Uji Multi Lokasi Galur Muatan Rojolele Tahun 2018 di Poktan Ngudi Rejeki Karangasem
Koramil 20/Cawas Bersama PPL dan Mahasiswa STTP, Kaji Uji Multi Lokasi Galur Muatan Rojolele Tahun 2018 di Poktan Ngudi Rejeki Karangasem

Koramil 20/Cawas Bersama PPL dan Mahasiswa STTP, Kaji Uji Multi Lokasi Galur Muatan Rojolele Tahun 2018 di Poktan Ngudi Rejeki Karangasem

Klaten – Kaji Uji Multi lokasi Galur Muatan Rojolele Tahun 2018  dilaksanakan di persawahan milik Bapak Wagito Poktan Ngudi Rejeki Wilayah Desa Karangasem Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten ini mulai memasuki Panen,Senin ( 28/5/2018)

Dalam kaji uji multi lokasi rojolele dan mendata karakteristik melibatkan Babinsa,  Mantri tani, PPL dan Mahasiswa STPP Magelang serta Poktani. Program Uji Multi rojolele merupakan program Pemerintah Kabupaten Klaten, anggaran dari Bappeda bekerjasama dengan BATAN,”Proses uji multi dengan 10 jenis varietas Rojolele mengikuti uji ketahanan hama, wereng, dan bakteri sebanyak 10 varietas Rojolele yang  merupakan awal/ primordia dari varietas  pengembangan Rojolele.

Mantri Tani sekaligus PPL Ibu Tut Wuri Handayani menjelaskan dari 9 varietas itu memiliki usia panen lebih pendek dari Rojolele sebelumnya. Padi Rojolele yang umumnya baru bisa dipanen usia 155 hari kini sudah dapat dipanen pada usia 115 hari.

Ketinggian tanaman 105-125 cm. Wuri mengakui, usia panen Rojolele yang terlalu lama menjadi alasan petani enggan menanam padi jenis tersebut. ” Padahal padi jenis ini bisa dipanen 3 bulan (120 hari). Maka penelitian diutamakan (varietas) cepat panen, (ketinggian tanaman) pendek, beras menthes, anakan banyak, dan bersih,” urai dia.

Dari 10 varietas Rojolele, tiap rumpun memiliki minimal 16-24 anak. Setiap malai bisa lebih dari 98 biji. Citarasa nasi Rojolele  tetap pulen, enak, dan wangi. Sama seperti nasi Rojolele di era kejayaan puluhan tahun lalu.

Rojolele ini di uji terhadap ketahanan wereng, hama dan bakteri sehingga bisa menjadi varietas nasional.  Bisa ditanam dan diproduksi untuk masyarakat,

“Mohon semua pihak ikut mendukung, mensukseskan program mulai dari Camat, Kades, PPL, Babinsa, Poktan, semua mengawal sehingga benih tidak sampai keluar dalam bentuk gabah”,Pungkasnya.

Babinsa Serka Didik Triyanta, berharap dengan kajian dan uji karakteristik di wilayah ini, para petani beralih ke varietas rojolele semua, karena selain tahan hama berasnya pulen dan enak, jelasnya.